Saat Aku Memilih Menghapus Chat Grup
Beberapa waktu lalu, grup chat lama tiba-tiba ramai.
Isinya empat orang, termasuk aku.
Kami kenal dari tempat kerja yang sama di Indonesia dulu.
Karena sekarang aku tinggal di Jepang, bisa dibilang aku yang paling jarang ketemu mereka.
Terakhir kali ketemu langsung saja sudah sekitar tiga tahun lalu.
Hari itu, salah satu teman mengirim beberapa foto.
Ternyata dia sedang bertemu dengan teman lain yang juga ada di grup tersebut.
Mereka makan bareng, jalan-jalan, dan terlihat seru.
Aku senang melihatnya.
Serius.
Meski sudah jarang bertemu,
rasanya menyenangkan tahu kalau orang-orang yang pernah jadi bagian hidup kita masih menjaga hubungan baik.
Lalu salah satu orang yang ada di foto bilang kalau mereka sebenarnya tidak sengaja bertemu.
"Karena kebetulan ketemu, sekalian aja hangout.
Akhir-akhir ini juga jarang ketemu orang. Berasa jadi anti-sosial."
Masih biasa saja.
Sampai teman yang lain menimpali.
"Sama! Aku juga jarang ketemu orang akhir-akhir ini.
Jadi anti-sosial gitu deh, berasa jadi introvert. Haha."
Nah.
Sebagai manusia yang sudah bertahun-tahun hidup nyaman sebagai introvert,
entah kenapa kalimat itu nyangkut di otakku.
Jleb.
Mungkin dia bercanda.
Mungkin dia tidak bermaksud apa-apa.
Tapi tetap saja rasanya aneh membaca introvert disamakan dengan anti-sosial.
Padahal beda.
Jauh beda.
Introvert itu bukan orang yang membenci manusia.
Bukan juga orang yang tidak bisa bersosialisasi.
Kami cuma punya baterai sosial yang lebih cepat habis.
Setelah banyak interaksi, biasanya perlu waktu sendiri untuk recharge.
Itu saja.
Karena tidak mau terdengar sewot, aku membalas dengan santai.
"Wkwkwk, sebagai kaum introvert aku merasa perlu meluruskan dikit nih 🤣.
Introvert bukan berarti anti sosial yaa. Kita tetap senang ngobrol dan ketemu orang kok, cuma punya baterai sosial.
Jadi habis lama bersosialisasi biasanya perlu me time buat recharge dulu.
Jadi kalau lagi jarang ketemu orang belum tentu jadi introvert hehe."
Menurutku cukup aman.
Tidak menyerang.
Tidak menghakimi.
Tidak ada niat cari ribut.
Lalu yang terjadi setelahnya?
Temanku langsung membalas panjang.
Panjang.
Intinya menjelaskan kalau dia sebenarnya tidak bermaksud begitu,
kalau dia dari dulu juga introvert, kalau yang dia maksud adalah bla bla bla, dan seterusnya.
Aku membaca semua itu sambil berpikir:
"Lho, aku kan cuma meluruskan."
Aku tidak bilang dia jahat.
Aku cuma bilang introvert dan anti-sosial tidak sama.
Selesai.
Tapi mungkin bagi sebagian orang, dikoreksi sekecil apa pun terasa seperti serangan pribadi.
Akhirnya aku cuma memberi reaksi 👍
Karena jujur saja, aku sudah tidak punya energi untuk berdebat.
Semakin dewasa, aku sadar tidak semua hal perlu dijelaskan sampai tuntas.
Tidak semua kesalahpahaman harus diselesaikan.
Dan tidak semua orang harus dipertahankan.
Setelah itu aku menghapus chat grup tersebut.
Bukan karena marah besar.
Bukan juga karena ada drama.
Aku cuma lelah.
Lelah dengan orang yang asal bicara tanpa berpikir.
Lelah dengan orang yang tidak pernah benar-benar hadir ketika diajak bertemu,
tapi selalu ada ketika ingin membela diri.
Lelah dengan dinamika pertemanan yang rasanya sudah lama berjalan hanya karena kebiasaan,
bukan karena hubungan itu masih berarti.
Kalau dipikir-pikir, beberapa tahun terakhir setiap kali aku pulang ke Indonesia dan mengajak bertemu,
hampir selalu ada alasan.
Sibuk.
Ada acara.
Lain kali ya.
Nanti kabarin lagi.
Dan "nanti"-nya tidak pernah datang.
Mungkin itu sebabnya kalimat tentang introvert tadi terasa lebih mengganggu daripada seharusnya.
Bukan karena definisinya salah.
Tapi karena itu menjadi pengingat bahwa aku sudah terlalu lama mempertahankan hubungan yang sebenarnya sudah selesai.
Jadi kali ini aku memilih sesuatu yang sederhana.
Aku unfollow.
Aku remove dari daftar pertemanan.
Aku berhenti mengikuti kabarnya.
Tidak ada pengumuman.
Tidak ada pertengkaran.
Tidak ada farewell speech.
Kadang-kadang kita tidak perlu menutup pintu dengan membantingnya.
Cukup pelan-pelan menutupnya, lalu berjalan pergi.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama,
aku merasa lega.
Comments
Post a Comment