Ngebolang) Day 4 Ehime (Aoshima...?)
Setelah meninggalkan Matsuyama Castle, saya kembali membuka itinerary yang sudah saya susun jauh-jauh hari sebelum berangkat ke Ehime.
Destinasi berikutnya adalah Aoshima, sebuah pulau kecil di pesisir Ehime yang terkenal dengan para penghuni berkakinya yang berbulu dan suka mengeong🐈
Rutenya terlihat cukup sederhana: naik kereta ke Iyo-Nagahama Station, lanjut ke Nagahama Port, lalu menyeberang dengan kapal.
Di layar Google Maps semuanya tampak mudah.
Tertata rapi.
Masuk akal.
Sayangnya, seperti banyak perjalanan solo yang pernah saya lakukan sebelumnya,
kenyataan di lapangan selalu punya cara sendiri untuk membuat cerita menjadi lebih menarik.
Setelah turun dari Matsuyama Castle saya menuju halte bis terdekat, lalu naik bis ke Matsuyama Station, lanjut naik kereta lokal menuju Iyo-Nagahama Station. Kereta lokal ini beneran LOKAL, dengan segala kearifan lokal yang dimiliki Ehime.
Keretanya bukan kereta jepang terbaru yang canggih dengan segala hi-tech-nya,
tapi kereta jadul dengan mesin diesel, tanpa LED screen untuk menunjukkan stasiun tujuan, bahkan bisa bayar ongkos dengan cash langsung di dalam kereta, dengan bayar ke masinisnya langsung!
Ketika kereta mendekati stasiun, hanya ada announce lewat speaker dengan bahasa Jepang only.
Perjalanan dari Matsuyama ke Iyo-Nagahama memakan waktu sekitar 1 jam, keretanya pelan banget, berhenti di setiap stasiun.
Bosan dan lama?
Oh, ternyata tidak, pemirsah!
Di sepanjang jalan, kami disuguhi pemandangan indah Ehime.
Mulai dari pegunungan, bukit, hutan yang adem dan eksotis, sampai laut yang biru dan indah!
Bahkan ketika melewati Shimonoda Station, saking deketnya sama laut, kereta berasa ada di tengah laut.
Mungkin ada yang pernah dengar tentang Shimonada Station, sebuah stasiun kecil di Ehime yang sering muncul di kalender, poster wisata, hingga acara televisi karena lokasinya yang seolah menyatu dengan laut. Dari jendela kereta, saya bisa memahami kenapa tempat ini begitu populer.
Destinasi berikutnya adalah Aoshima, sebuah pulau kecil di pesisir Ehime yang terkenal dengan para penghuni berkakinya yang berbulu dan suka mengeong🐈
Rutenya terlihat cukup sederhana: naik kereta ke Iyo-Nagahama Station, lanjut ke Nagahama Port, lalu menyeberang dengan kapal.
Di layar Google Maps semuanya tampak mudah.
Tertata rapi.
Masuk akal.
Sayangnya, seperti banyak perjalanan solo yang pernah saya lakukan sebelumnya,
kenyataan di lapangan selalu punya cara sendiri untuk membuat cerita menjadi lebih menarik.
Setelah turun dari Matsuyama Castle saya menuju halte bis terdekat, lalu naik bis ke Matsuyama Station, lanjut naik kereta lokal menuju Iyo-Nagahama Station. Kereta lokal ini beneran LOKAL, dengan segala kearifan lokal yang dimiliki Ehime.
Keretanya bukan kereta jepang terbaru yang canggih dengan segala hi-tech-nya,
tapi kereta jadul dengan mesin diesel, tanpa LED screen untuk menunjukkan stasiun tujuan, bahkan bisa bayar ongkos dengan cash langsung di dalam kereta, dengan bayar ke masinisnya langsung!
Ketika kereta mendekati stasiun, hanya ada announce lewat speaker dengan bahasa Jepang only.
Perjalanan dari Matsuyama ke Iyo-Nagahama memakan waktu sekitar 1 jam, keretanya pelan banget, berhenti di setiap stasiun.
Bosan dan lama?
Oh, ternyata tidak, pemirsah!
Di sepanjang jalan, kami disuguhi pemandangan indah Ehime.
Mulai dari pegunungan, bukit, hutan yang adem dan eksotis, sampai laut yang biru dan indah!
Bahkan ketika melewati Shimonoda Station, saking deketnya sama laut, kereta berasa ada di tengah laut.
Mungkin ada yang pernah dengar tentang Shimonada Station, sebuah stasiun kecil di Ehime yang sering muncul di kalender, poster wisata, hingga acara televisi karena lokasinya yang seolah menyatu dengan laut. Dari jendela kereta, saya bisa memahami kenapa tempat ini begitu populer.
Saya hanya melihat dari jendela kereta, tanpa ada niatan untuk turun dan bergabung untuk ikutan foto-foto viral. Karena tujuan utama saya adalah Aoshima! Tetep fokus, beb!
Lewat tengah hari, saya tiba di Iyo-Nagahama Station.
Station lokal dan kecil, bahkan ngga ada loket ataupun petugas, ada toilet kecil tapi ngga terurus. Begitu keluar peron, langsung jalanan umum dengan beberapa vending machine minuman di pinggirnya.
Lewat tengah hari, saya tiba di Iyo-Nagahama Station.
Station lokal dan kecil, bahkan ngga ada loket ataupun petugas, ada toilet kecil tapi ngga terurus. Begitu keluar peron, langsung jalanan umum dengan beberapa vending machine minuman di pinggirnya.
3 menit,
5 menit,
bahkan 10 menit lebih saya jalan kaki menuju laut, tapi ngga menemukan Nagahama Port atau setidaknya yang mirip pelabuhan.
Hanya ada laut seluas mata memandang, beberapa kapal nelayan kecil berlabuh di pinggir, dan beberapa bangunan tidak terurus.
5 menit,
bahkan 10 menit lebih saya jalan kaki menuju laut, tapi ngga menemukan Nagahama Port atau setidaknya yang mirip pelabuhan.
Hanya ada laut seluas mata memandang, beberapa kapal nelayan kecil berlabuh di pinggir, dan beberapa bangunan tidak terurus.
Artinya saya cuma punya waktu sekitar lima belas menit sebelum kapal terakhir hari itu berangkat.
Mau tanya jalan, ngga ada orang, cuma ada burung camar yang ngeliatin saya.
Saya panik dan misuh-misuh sama Mbah Gugel😂
Setelah reset gugel map dan jalan cepet, Alhamdulillah saya tiba di Nagahama Port.
Jangan bayangkan Port atau pelabuhan gede seperti saat naik kapal Ferry dari Beppu ke Ehime.
Mau tanya jalan, ngga ada orang, cuma ada burung camar yang ngeliatin saya.
Saya panik dan misuh-misuh sama Mbah Gugel😂
Setelah reset gugel map dan jalan cepet, Alhamdulillah saya tiba di Nagahama Port.
Jangan bayangkan Port atau pelabuhan gede seperti saat naik kapal Ferry dari Beppu ke Ehime.
Port ini cuma bangunan kecil seukuran rumah tipe 45 dengan ruang tunggu di luarnya yang hanya muat sekitar 4-5 orang.
Di depannya berlabuh kapal kecil yang mungkin muat sekitar 20 penumpang bertuliskan “Aoshima”
Hore!
Si Bolang akhirnya bisa ke Aoshima!
Aoshima udah di depan mata!
Impian ketemu para kucing di pulau Aoshima akhirnya terwujud setelah menunggu puluhan purnama🌙
Saya pun beringsut menuju bangunan kayak rumah tipe 45 itu untuk beli tiket kapal.
Namun, langkah saya terhenti ketika tiba di depan pintu yang terbuat dari kaca.
Disitu tertulis :
“Kapal tidak akan berlayar untuk sementara waktu, hingga waktu yang belum ditentukan. Mohon maaf.”
Saya cuma bengong melihat tulisan itu.
Rasanya seperti baru saja sampai di garis finish, lalu diberi tahu kalau lombanya dibatalkan.
Mungkin saya salah lihat, atau salah baca huruf Kanji, atau tetiba saya jadi ngga bisa bahasa Jepang.
Saya berkedip beberapa kali, kucek-kucek mata, berharap tulisan yang tadi saya baca salah lihat.
Tapi dilihat berapa kali pun, tulisannya tetap sama.
Pantesan di sekeliling sepi banget, ngga ada seorang pun. Padahal Aoshima cukup terkenal, dan ngga mungkin ngga ada seorang pun di pelabuhan.
Melihat tulisan “hingga waktu yang belum ditentukan” membuat saya makin lunglai,
karena saya di Ehime cuma sampai besok.
Saya berada di situ sekitar 15 menit, mengambil beberapa foto, melihat sekeliling,
berharap ada secercah harapan untuk bertemu mahluk berbulu di sebrang pulau sana.
“Padahal kapalnya ada di depan mata, tapi saya ngga bisa pergi….”
ucap saya lirih sambil memandangi kapal sebelum saya pergi meninggalkan pelabuhan.
![]() |
| Padahal kapal menuju Aoshima udah ada di depan mata….. |
Sepanjang jalan pulang, saya terus berbisik lirih, sedih, kesepian, kecewa,
semua bercampur aduk.
Padahal ini impian saya sejak bertahun-tahun lalu, bahkan sebelum tinggal di Jepang.
Padahal saya sudah jauh-jauh membawa Nendoroid Kenma dan Kuroo dari Nekoma
hanya untuk foto bareng kucing-kucing Aoshima.
Mereka ikut menempuh perjalanan berjam-jam dari Matsuyama, tapi ternyata nasib kami sama-sama terdampar di pelabuhan.
Mungkin kali ini belum berjodoh ketemu kucing-kucing di Pulau Aoshima, mungkin karena ini sudah memasuki libur akhir tahun, jadi kapal pun libur ngga berlayar, mungkin ini tanda saya harus ke Ehime lagi untuk ketemu kucing-kucing di Aoshima, bisik saya menghibur diri sendiri.
Masih belum cukup ujian hidup saya setelah ngga jadi ke Aoshima, saya masih harus menghadapi kenyataan kalau kereta menuju Matsuyama cuma ada tiga jam sekali.
Dan masih dua jam lagi sampai kereta berikutnya datang. Lagi-lagi saya cuma bengong di pinggir jalan dan berdiri lunglai.
Tidak mau terus-terusan menumpuk kesedihan, saya pun mengecek kembali gugel map, mencari alternatif lain selain kereta pulang menuju Matsuyama.
Ada bis yang menuju stasiun kereta dan kereta tersebut datang lebih cepat. Halte bis-nya pun tidak jauh dari port. Meski jauh memutar, ngga apa-apalah daripada harus nunggu dua jam.
Bis yang ditunggu pun datang.
Saat itu hanya 4 penumpang termasuk saya di dalam bis yang amat sangat lokal. Saya duduk di pinggir jendela menikmati pemandangan Ehime sambil menunggu bis tiba di tujuan. Pemandangan laut, gunung, sungai, hingga kota kecil yang tenang menemani saya sepanjang perjalanan.
Ketika bis tiba di stasiun tujuan, saya turun dari bis.
Pengalaman kemarin naik bis lokal di Ehime dan ngga bisa pakai IC card atau sejenisnya, saya mengeluarkan uang tunai satu lembar 1000 yen.
Ketika saya akan memasukkan lembaran uang tersebut ke mesin bayar, uang saya keluar lagi dari mesin.
“Oh, pakai uang baru ya, ngga bisa, mesinnya cuma bisa pakai uang lama.” kata supir bis.
Owalaaah, saya ngga bawa uang lama!
Lagian baru tahu kalau ngga bisa pakai uang baru!
Panik karena ngga bawa uang lama, ditambah kereta saya sebentar lagi datang, saya cuma garuk-garuk kepala. Pak supir dengan sigap mengeluarkan dompetnya, lalu menyodorkan uang lembaran 1000 yen lama ke saya.
“Tuker sama ini, saya bawa uang lama.”
Duh, rasanya saat itu pengen sun tangan sama pak supir yang baik hati dan sigap cepat tanggap. Di hari yang penuh kekecewaan, justru kebaikan kecil dari orang asing yang paling saya ingat sampai sekarang.
Di dalam kereta menuju Matsuyama, saya akhirnya berhenti memikirkan kapal yang tidak jadi berlayar.
Jendela kereta kembali memperlihatkan laut dan perbukitan Ehime yang tenang. Kalau dipikir-pikir, hari itu memang tidak berjalan sesuai rencana. Tapi justru karena itulah saya punya cerita untuk dibawa pulang.
Malam itu saya berjalan pelan di sepanjang Dogo Onsen Shopping Street sambil membawa kantong camilan dan oleh-oleh kecil untuk diri sendiri.
Memang saya gagal sampai ke Aoshima.
Saya tidak jadi bertemu kucing-kucing yang selama bertahun-tahun hanya saya lihat lewat foto dan video. Tapi hari itu saya belajar lagi satu hal yang sudah sering diajarkan solo traveling : Tidak semua tujuan harus berhasil dicapai untuk membuat sebuah perjalanan berharga.
Kadang justru cerita yang paling lama diingat adalah cerita tentang tempat yang gagal kita datangi. Kadang perjalanan tidak memberikan apa yang kita inginkan,
tapi memberikan cerita yang tidak akan pernah kita lupakan.
Sampai ketemu lagi, Aoshima.
Semoga lain kali kita benar-benar berjodoh.




Comments
Post a Comment