Film Kimetsu No Yaiba, Mahasiswa Keliling Dunia, dan Fakta Bahwa Ternyata Saya "Yang Paling Tua"
Beberapa waktu lalu saya pergi ke Shinjuku untuk menonton film terbaru Kimetsu no Yaiba.
Saya janjian dengan tiga orang teman.
Sebut saja mereka Mawar, Melati, dan Kenanga.
Bukan nama sebenarnya.
Karena cuma bunga yang tidak mungkin protes setelah dijadikan nama samaran di blog.
Kami sepakat bertemu langsung di TOHO Cinemas Shinjuku.
Pilihan lokasi yang cukup adil karena saya berangkat dari Kanagawa, sementara ketiga teman saya tinggal di Saitama.
Titik tengahnya: Shinjuku.
Titik tengah geografis.
Belakangan saya sadar, mungkin bukan titik tengah yang lain.
Filmnya?
Bagus.
Bahkan sangat bagus.
Durasinya lebih dari dua jam setengah dan entah berapa kali saya menangis sepanjang pemutaran.
Hari itu adalah hari kedua penayangan di Jepang, jadi bioskop penuh sesak.
Rasanya seperti seluruh umat manusia berkumpul untuk menangis bersama melihat nasib para pembasmi iblis.
Ketika film selesai, mata sembab, hidung mampet, dan jiwa saya masih tertinggal di medan pertempuran Kimetsu no Yaiba.
Karena lapar, kami pergi makan sushi di Sushiro.
Karena tidak ada yang bisa menyembuhkan trauma emosional akibat anime selain karbohidrat dan ikan mentah.
Setelah makan, kami memutuskan jalan-jalan ke Shinjuku Gyoen.
Biaya masuknya 500 yen.
Dan entah kenapa baru di situ saya sadar kalau saya belum pernah masuk ke sana.
Padahal saya sudah berkali-kali main ke Shinjuku.
Taman itu luas, bersih, dan surprisingly adem untuk ukuran musim panas Jepang yang biasanya kelembapannya bisa membuat manusia merasa sedang dikukus perlahan.
Kami berjalan-jalan sebentar sebelum akhirnya menemukan hamparan rumput yang luas.
Sepatu dilepas.
Badan direbahkan.
Energi dipulihkan.
Obrolan mengalir.
Hidup terasa damai.
Sampai semesta memutuskan memberi plot twist.
Tiba-tiba datang seorang pemuda.
Usianya mungkin pertengahan dua puluhan.
Tanpa basa-basi dia langsung memperkenalkan diri.
Katanya mahasiswa tingkat akhir yang sedang cuti karena ingin keliling dunia.
Ketika tahu kami dari Indonesia, dia bercerita pernah ke Jakarta dan Borobudur di Yogyakarta.
Saya tidak tega mengoreksi.
Karena Borobudur ada di Magelang.
Tapi ya sudahlah.
Kadang-kadang fakta memang tidak perlu menghalangi seseorang untuk bercerita dengan penuh percaya diri.
Lalu mulailah terungkap tujuan sebenarnya.
Dia bilang biaya kuliahnya terhambat karena uangnya banyak habis dipakai untuk travelling.
Kemudian dia menawarkan jasa memotret kami menggunakan kamera instan miliknya.
Dengan imbalan sukarela.
Alias minta uang.
Alias donasi.
Alias kalau dalam bahasa rakyat biasa:
ujung-ujungnya duit.
Saya sebenarnya langsung tidak suka.
Entahlah.
Mungkin saya terlalu sinis.
Tapi dalam kepala saya cuma ada satu pertanyaan.
Kalau butuh uang, kenapa tidak kerja part-time?
Di Jepang pekerjaan paruh waktu bertebaran lebih banyak daripada iklan diskon di supermarket.
Tapi ya sudahlah.
Namanya juga hidup.
Tidak semua orang memilih jalan yang sama.
Setelah diskusi singkat, akhirnya kami sepakat memberikan 1000 yen.
Masalahnya bukan uangnya.
Masalahnya adalah:
siapa yang harus menyerahkan uangnya?
Dan di sinilah bencana sesungguhnya dimulai.
Kami saling tunjuk.
Atau lebih tepatnya, mereka saling tunjuk.
Saya cuma diam sambil menunggu pertunjukan selesai.
Sampai kemudian seseorang berkata,
"Kamu aja yang kasih. Kan kamu yang paling tua."
Lalu diulang lagi.
"Kamu aja. Kan paling tua."
Lucu ya.
Kadang satu kalimat yang mungkin dimaksudkan bercanda bisa mendarat sangat berbeda di telinga orang lain.
Hari itu saya sedang lelah.
Cuaca panas.
Kepala sakit.
Efek obat juga belum hilang.
Dan entah kenapa kata tua itu menancap lebih dalam daripada yang seharusnya.
Dalam hati saya langsung menjawab:
YA MAAF KALAU GUE TUA.
Padahal beda umur kami juga paling empat atau lima tahun.
Bukan empat atau lima generasi.
Dan yang membuat saya kesal bukan soal angkanya.
Bukan soal usia.
Tapi kesan yang saya tangkap dari kalimat itu.
Seolah karena saya lebih tua sedikit, maka saya otomatis harus maju.
Harus mengurus.
Harus menyelesaikan.
Harus menjadi penanggung jawab ketika yang lain tidak mau.
Saya akhirnya cuma menjawab,
"Lho, apa hubungannya?"
Lalu menggeser badan menjauh beberapa senti.
Gerakan kecil yang mungkin terlihat biasa.
Tapi sebenarnya itu adalah bentuk demonstrasi kemerdekaan Republik Kesal.
Untungnya salah satu dari mereka akhirnya menyerahkan uang itu.
Si mahasiswa pun pergi.
Mungkin mencari kelompok korban berikutnya.
Atau calon investor berikutnya.
Saya tidak tahu.
Dan terus terang tidak tertarik mencari tahu.
Masalahnya, rasa kesal saya tidak ikut pergi bersama dia.
Dia pergi.
Kesalnya tinggal.
Kami lalu pindah ke café dekat Stasiun Shinjuku.
Dan di situlah saya makin sadar sesuatu.
Sepanjang sore, sebagian besar topik obrolan mereka berkisar pada kantor mereka, teman kantor mereka, tetangga mereka, lingkungan mereka.
Sementara saya?
Duduk seperti penonton tamu dalam podcast yang tidak saya ikuti sejak episode pertama.
Nama A.
Nama B.
Nama C.
Semuanya terdengar asing.
Saya tidak kenal orang-orang yang mereka bicarakan.
Tidak bekerja di tempat yang sama.
Tidak tinggal di lingkungan yang sama.
Dan saat social battery saya tinggal 2%, berpura-pura tertarik adalah pekerjaan yang sangat melelahkan.
Ketika akhirnya jam tujuh malam tiba dan kami pulang, saya justru merasa lega.
Bukan karena harinya buruk.
Kimetsu no Yaiba tetap luar biasa.
Shinjuku Gyoen tetap indah.
Sushinya tetap enak.
Tapi karena saya akhirnya bisa pulang.
Ke tempat favorit saya.
Rumah.
Tempat di mana tidak ada orang yang menunjuk saya hanya karena saya lahir beberapa tahun lebih dulu.
Dalam perjalanan pulang, saya menyadari sesuatu.
Mungkin selama ini saya menganggap mereka teman dekat.
Teman yang setara.
Teman yang kebetulan lebih muda.
Tapi mungkin mereka melihat saya dengan cara yang berbeda.
Mungkin sebagai kakak.
Mungkin sebagai senior.
Mungkin sebagai orang yang lebih tua.
Saya tidak tahu.
Dan terus terang, sekarang saya juga tidak terlalu ingin mencari tahu.
Karena pada akhirnya saya tidak bisa mengendalikan cara orang memandang saya.
Tapi saya bisa mengendalikan kepada siapa saya menghabiskan waktu dan energi.
Dan semakin bertambah usia, saya semakin sadar bahwa waktu dan energi itu mahal.
Terlalu mahal untuk dihabiskan pada hubungan yang lebih banyak membuat lelah daripada membuat nyaman.
Jadi pelajaran terbesar yang saya dapat hari itu bukan dari Kimetsu no Yaiba.
Bukan juga dari mahasiswa keliling dunia yang meminta donasi.
Melainkan dari satu kalimat sederhana:
"Kan kamu yang paling tua."
Kalimat yang berhasil membuat saya sadar bahwa kadang-kadang, orang yang kita anggap teman ternyata hanya singgah sebagai kenalan yang kebetulan sering kita temui.
Dan mungkin itu tidak apa-apa.
Karena tidak semua orang ditakdirkan bertahan sampai season terakhir.
Seperti anime.
Ada karakter yang memang hanya muncul beberapa episode.
Lalu menghilang.
Dan penonton tetap bisa melanjutkan cerita.
Saya janjian dengan tiga orang teman.
Sebut saja mereka Mawar, Melati, dan Kenanga.
Bukan nama sebenarnya.
Karena cuma bunga yang tidak mungkin protes setelah dijadikan nama samaran di blog.
Kami sepakat bertemu langsung di TOHO Cinemas Shinjuku.
Pilihan lokasi yang cukup adil karena saya berangkat dari Kanagawa, sementara ketiga teman saya tinggal di Saitama.
Titik tengahnya: Shinjuku.
Titik tengah geografis.
Belakangan saya sadar, mungkin bukan titik tengah yang lain.
Filmnya?
Bagus.
Bahkan sangat bagus.
Durasinya lebih dari dua jam setengah dan entah berapa kali saya menangis sepanjang pemutaran.
Hari itu adalah hari kedua penayangan di Jepang, jadi bioskop penuh sesak.
Rasanya seperti seluruh umat manusia berkumpul untuk menangis bersama melihat nasib para pembasmi iblis.
Ketika film selesai, mata sembab, hidung mampet, dan jiwa saya masih tertinggal di medan pertempuran Kimetsu no Yaiba.
Karena lapar, kami pergi makan sushi di Sushiro.
Karena tidak ada yang bisa menyembuhkan trauma emosional akibat anime selain karbohidrat dan ikan mentah.
Setelah makan, kami memutuskan jalan-jalan ke Shinjuku Gyoen.
Biaya masuknya 500 yen.
Dan entah kenapa baru di situ saya sadar kalau saya belum pernah masuk ke sana.
Padahal saya sudah berkali-kali main ke Shinjuku.
Taman itu luas, bersih, dan surprisingly adem untuk ukuran musim panas Jepang yang biasanya kelembapannya bisa membuat manusia merasa sedang dikukus perlahan.
Kami berjalan-jalan sebentar sebelum akhirnya menemukan hamparan rumput yang luas.
Sepatu dilepas.
Badan direbahkan.
Energi dipulihkan.
Obrolan mengalir.
Hidup terasa damai.
Sampai semesta memutuskan memberi plot twist.
Tiba-tiba datang seorang pemuda.
Usianya mungkin pertengahan dua puluhan.
Tanpa basa-basi dia langsung memperkenalkan diri.
Katanya mahasiswa tingkat akhir yang sedang cuti karena ingin keliling dunia.
Ketika tahu kami dari Indonesia, dia bercerita pernah ke Jakarta dan Borobudur di Yogyakarta.
Saya tidak tega mengoreksi.
Karena Borobudur ada di Magelang.
Tapi ya sudahlah.
Kadang-kadang fakta memang tidak perlu menghalangi seseorang untuk bercerita dengan penuh percaya diri.
Lalu mulailah terungkap tujuan sebenarnya.
Dia bilang biaya kuliahnya terhambat karena uangnya banyak habis dipakai untuk travelling.
Kemudian dia menawarkan jasa memotret kami menggunakan kamera instan miliknya.
Dengan imbalan sukarela.
Alias minta uang.
Alias donasi.
Alias kalau dalam bahasa rakyat biasa:
ujung-ujungnya duit.
Saya sebenarnya langsung tidak suka.
Entahlah.
Mungkin saya terlalu sinis.
Tapi dalam kepala saya cuma ada satu pertanyaan.
Kalau butuh uang, kenapa tidak kerja part-time?
Di Jepang pekerjaan paruh waktu bertebaran lebih banyak daripada iklan diskon di supermarket.
Tapi ya sudahlah.
Namanya juga hidup.
Tidak semua orang memilih jalan yang sama.
Setelah diskusi singkat, akhirnya kami sepakat memberikan 1000 yen.
Masalahnya bukan uangnya.
Masalahnya adalah:
siapa yang harus menyerahkan uangnya?
Dan di sinilah bencana sesungguhnya dimulai.
Kami saling tunjuk.
Atau lebih tepatnya, mereka saling tunjuk.
Saya cuma diam sambil menunggu pertunjukan selesai.
Sampai kemudian seseorang berkata,
"Kamu aja yang kasih. Kan kamu yang paling tua."
Lalu diulang lagi.
"Kamu aja. Kan paling tua."
Lucu ya.
Kadang satu kalimat yang mungkin dimaksudkan bercanda bisa mendarat sangat berbeda di telinga orang lain.
Hari itu saya sedang lelah.
Cuaca panas.
Kepala sakit.
Efek obat juga belum hilang.
Dan entah kenapa kata tua itu menancap lebih dalam daripada yang seharusnya.
Dalam hati saya langsung menjawab:
YA MAAF KALAU GUE TUA.
Padahal beda umur kami juga paling empat atau lima tahun.
Bukan empat atau lima generasi.
Dan yang membuat saya kesal bukan soal angkanya.
Bukan soal usia.
Tapi kesan yang saya tangkap dari kalimat itu.
Seolah karena saya lebih tua sedikit, maka saya otomatis harus maju.
Harus mengurus.
Harus menyelesaikan.
Harus menjadi penanggung jawab ketika yang lain tidak mau.
Saya akhirnya cuma menjawab,
"Lho, apa hubungannya?"
Lalu menggeser badan menjauh beberapa senti.
Gerakan kecil yang mungkin terlihat biasa.
Tapi sebenarnya itu adalah bentuk demonstrasi kemerdekaan Republik Kesal.
Untungnya salah satu dari mereka akhirnya menyerahkan uang itu.
Si mahasiswa pun pergi.
Mungkin mencari kelompok korban berikutnya.
Atau calon investor berikutnya.
Saya tidak tahu.
Dan terus terang tidak tertarik mencari tahu.
Masalahnya, rasa kesal saya tidak ikut pergi bersama dia.
Dia pergi.
Kesalnya tinggal.
Kami lalu pindah ke café dekat Stasiun Shinjuku.
Dan di situlah saya makin sadar sesuatu.
Sepanjang sore, sebagian besar topik obrolan mereka berkisar pada kantor mereka, teman kantor mereka, tetangga mereka, lingkungan mereka.
Sementara saya?
Duduk seperti penonton tamu dalam podcast yang tidak saya ikuti sejak episode pertama.
Nama A.
Nama B.
Nama C.
Semuanya terdengar asing.
Saya tidak kenal orang-orang yang mereka bicarakan.
Tidak bekerja di tempat yang sama.
Tidak tinggal di lingkungan yang sama.
Dan saat social battery saya tinggal 2%, berpura-pura tertarik adalah pekerjaan yang sangat melelahkan.
Ketika akhirnya jam tujuh malam tiba dan kami pulang, saya justru merasa lega.
Bukan karena harinya buruk.
Kimetsu no Yaiba tetap luar biasa.
Shinjuku Gyoen tetap indah.
Sushinya tetap enak.
Tapi karena saya akhirnya bisa pulang.
Ke tempat favorit saya.
Rumah.
Tempat di mana tidak ada orang yang menunjuk saya hanya karena saya lahir beberapa tahun lebih dulu.
Dalam perjalanan pulang, saya menyadari sesuatu.
Mungkin selama ini saya menganggap mereka teman dekat.
Teman yang setara.
Teman yang kebetulan lebih muda.
Tapi mungkin mereka melihat saya dengan cara yang berbeda.
Mungkin sebagai kakak.
Mungkin sebagai senior.
Mungkin sebagai orang yang lebih tua.
Saya tidak tahu.
Dan terus terang, sekarang saya juga tidak terlalu ingin mencari tahu.
Karena pada akhirnya saya tidak bisa mengendalikan cara orang memandang saya.
Tapi saya bisa mengendalikan kepada siapa saya menghabiskan waktu dan energi.
Dan semakin bertambah usia, saya semakin sadar bahwa waktu dan energi itu mahal.
Terlalu mahal untuk dihabiskan pada hubungan yang lebih banyak membuat lelah daripada membuat nyaman.
Jadi pelajaran terbesar yang saya dapat hari itu bukan dari Kimetsu no Yaiba.
Bukan juga dari mahasiswa keliling dunia yang meminta donasi.
Melainkan dari satu kalimat sederhana:
"Kan kamu yang paling tua."
Kalimat yang berhasil membuat saya sadar bahwa kadang-kadang, orang yang kita anggap teman ternyata hanya singgah sebagai kenalan yang kebetulan sering kita temui.
Dan mungkin itu tidak apa-apa.
Karena tidak semua orang ditakdirkan bertahan sampai season terakhir.
Seperti anime.
Ada karakter yang memang hanya muncul beberapa episode.
Lalu menghilang.
Dan penonton tetap bisa melanjutkan cerita.
Comments
Post a Comment