Ketika Topi Menjadi Masalah Kebangsaan di KBRI Tokyo

Awal bulan Juni lalu, saya pergi ke KBRI Tokyo untuk memperpanjang paspor.
Paspor saya baru habis masa berlakunya bulan Oktober nanti sebenarnya, tapi daripada mepet dan panik sendiri, saya memutuskan mengurusnya lebih awal.
 
Setelah booking jadwal terlebih dahulu, berangkatlah saya ke Meguro dengan semangat warga negara yang taat administrasi.
 
Prosesnya sendiri lancar.
Sangat lancar bahkan.
Dokumen lengkap, foto aman, pembayaran beres, antrean bergerak sesuai harapan. Saya sampai heran karena biasanya kalau berhadapan dengan urusan administrasi,
apalagi di kantor pemerintahan, saya suka mendadak menjadi manusia yang salah tingkah.
 
Tapi hari itu santai.
Satu-satunya kendala hanya saya sempat nyasar saat keluar dari Stasiun Meguro.
Padahal sudah pakai Google Maps.
Saya tidak tahu siapa yang salah.
Google Maps atau saya.
 
Tapi mengingat sejarah hidup saya, kemungkinan besar saya.
 
Setelah sampai di KBRI, saya mengambil nomor antrean lalu duduk menunggu. Ruang tunggunya cukup nyaman. Ada banyak kursi, sofa, layar LED besar untuk nomor antrean, AC yang bekerja dengan baik, bahkan area bermain anak di salah satu sudut ruangan.
 
Sambil menunggu, saya melakukan aktivitas favorit saya.
Mengamati orang.
 
Hampir semua pengunjung hari itu orang Indonesia. Ada yang datang bersama keluarga besar, ada yang datang berdua dengan teman, ada juga yang sendirian seperti saya.
 
Saat sedang asyik menatap layar ponsel, tiba-tiba terdengar suara keras menggema di seluruh ruangan.
"Tidak boleh pakai topi, ya! Lepas topi di dalam ruangan!"
 
Keras.
Keras sekali.
Sampai semua orang spontan menoleh.
 
Karena langit-langit ruang tunggunya tinggi, suara itu memantul ke mana-mana seperti pengumuman keadaan darurat. Saya langsung mencari sumber suara.
 
Ternyata salah satu staf KBRI sedang menegur seorang pengunjung yang masuk masih memakai topi. Dari logat bahasa Indonesianya, saya cukup yakin staf tersebut orang Jepang. Dan setelah melihat wajahnya, keyakinan saya mencapai level sertifikasi ISO.
 
Pengunjung yang ditegur langsung melepaskan topinya dan meminta maaf.
Selesai.
Masalah beres.
 
Tapi entah kenapa saya merasa sedikit tidak nyaman.
Mungkin karena cara menegurnya.
 
Orang Jepang yang saya kenal selama ini biasanya kalau menegur orang
dilakukan dengan volume suara yang hanya cukup didengar oleh pihak yang bersangkutan. Bukan sampai satu gedung ikut update situasi.
 
Tapi ya sudahlah.
Mungkin saya yang terlalu sensitif.
Saya kembali memainkan ponsel.
 
Beberapa saat kemudian, karena bosan menatap layar, saya kembali mengamati sekitar.
 
Jumlah pengunjung mulai berkurang.
Lalu mata saya tertuju ke salah satu loket.
Di sana ada pasangan muda.
Perempuan Indonesia.
Laki-laki Jepang.
 
Dugaan saya sih mungkin sedang mengurus administrasi terkait pernikahan atau semacamnya. Lalu saya menyadari sesuatu.
 
Tunggu dulu.
 
Si laki-laki Jepang itu pakai topi.
 
Masih pakai topi.
Dari pertama masuk.
Saat duduk di loket.
Saat berbicara dengan petugas.
Saat menunggu.
 
Pokoknya terus pakai topi.
 
Dan tidak ada yang menegur.
Tidak ada.
 
Padahal staf Jepang yang tadi berteriak soal topi masih berdiri di tempat yang sama. Persis seperti NPC (Non-playable character) dalam video game yang belum mendapatkan quest berikutnya.
 
Beliau ada.
Beliau melihat.
Beliau mengawasi.
 
Tapi beliau diam.
 
Saya mulai bingung.
Lho?
 
Bukannya tadi ada aturan tidak boleh pakai topi?
Atau jangan-jangan aturan itu hanya berlaku untuk topi tertentu?
 
Mungkin topi Indonesia.
Topi Jepang dapat pengecualian.
 
Mungkin ada paspor khusus untuk topi.
Atau mungkin ada perjanjian bilateral yang belum saya ketahui.
 
Yang jelas, pasangan itu menyelesaikan urusannya sampai selesai.
Tidak ada teguran.
Tidak ada pengumuman.
Tidak ada konser teriakan jilid dua.
 
Saya yang duduk di sofa cuma bisa tersenyum tipis.
Kasihan juga ya orang yang tadi.
 
Kalau memang ada aturan, harusnya berlaku untuk semua orang.
Kalau memang mau menegur, tegur saja dengan sopan.
Tidak perlu sampai satu ruangan ikut menjadi saksi sejarah.
 
Saya tidak marah.
Tidak juga tersinggung.
Hanya merasa heran.
 
Karena yang saya lihat hari itu bukan soal topi. Melainkan bagaimana aturan bisa terdengar sangat tegas ketika diterapkan kepada satu orang, lalu mendadak menghilang ketika situasinya berubah.
 
Beberapa menit kemudian nomor antrean saya dipanggil. Saya pun menuju loket dan menyelesaikan urusan perpanjangan paspor tanpa kendala apa pun.
 
Paspor beres.
Administrasi aman.
 
Tapi pertanyaan tentang topi itu masih tersisa sampai sekarang. Mungkin suatu hari nanti saya akan menemukan jawabannya.
Atau mungkin tidak.
 
Yang jelas, sejak hari itu saya belajar satu hal.
Ternyata bahkan selembar topi pun bisa memiliki kewarganegaraan.

Comments

Popular posts from this blog

Wild Heroes

[My Favorite] : yang akhir-akhir ini bikin kecanduan

Kumiai