Posts

Kamakura Pagi Hari: Mengejar Kereta Pertama Demi Laut, Sarapan Enak, dan Jalan-Jalan yang Tenang

Image
Saya cukup sering pergi ke Kamakura. Maklum, lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah. Naik kereta sekitar satu setengah jam dan sampai. Mungkin karena terlalu sering pergi ke sana, saya baru sadar kalau ternyata saya belum pernah menulis tentang Kamakura di blog. Padahal sudah berkali-kali ke sana. Mungkin karena setiap habis jalan-jalan, saya keburu posting foto dan video di Instagram yang serba sat set dan singkat. Jadi rasanya agak malas kalau harus mengulang cerita yang sama dalam bentuk tulisan panjang. Padahal kalau dipikir-pikir, Kamakura itu salah satu tempat yang tidak pernah membuat saya bosan meski didatangi berkali-kali. Dan beberapa hari yang lalu, saya pergi ke sana lagi. Kali ini ada yang berbeda. Saya pergi pagi sekali. Bukan pagi dalam arti berangkat jam delapan. Tapi pagi dalam arti... saat matahari saja masih belum muncul. Mengejar Kereta Sebelum Matahari Terbit Sekitar pukul 05.40 pagi saya sudah berdiri di stasiun dekat rumah sambil menunggu kereta datang. Sebenarn...

Film Kimetsu No Yaiba, Mahasiswa Keliling Dunia, dan Fakta Bahwa Ternyata Saya "Yang Paling Tua"

Beberapa waktu lalu saya pergi ke Shinjuku untuk menonton film terbaru   Kimetsu no Yaiba . Saya janjian dengan tiga orang teman.   Sebut saja mereka Mawar, Melati, dan Kenanga. Bukan nama sebenarnya. Karena cuma bunga yang tidak mungkin protes setelah dijadikan nama samaran di blog.   Kami sepakat bertemu langsung di  TOHO Cinemas Shinjuku .  Pilihan lokasi yang cukup adil karena saya berangkat dari Kanagawa, sementara ketiga teman saya tinggal di Saitama. Titik tengahnya: Shinjuku. Titik tengah geografis. Belakangan saya sadar, mungkin bukan titik tengah yang lain.     Filmnya? Bagus. Bahkan sangat bagus. Durasinya lebih dari dua jam setengah dan entah berapa kali saya menangis sepanjang pemutaran.   Hari itu adalah hari kedua penayangan di Jepang, jadi bioskop penuh sesak. Rasanya seperti seluruh umat manusia berkumpul untuk menangis bersama melihat nasib para pembasmi iblis.   Ketika film selesai, mata sembab, hidung mampet, dan jiwa saya...