Saya Suka Hujan. Katanya.
Ada banyak orang yang bilang,
"Saya suka hujan."
Katanya hujan itu menenangkan. Romantis. Bikin melow. Cocok buat ngelamun sambil memandangi tetesan air dari balik jendela.
Dan jujur saja?
Saya setuju.
Saya juga suka hujan.
Tapi dengan satu syarat.
Saya harus berada di rumah.
Atau paling tidak berada di dalam ruangan yang nyaman, hangat, dan terlindung dari hujan. Duduk santai sambil minum kopi, baca buku, atau rebahan di kasur dengan selimut tebal.
Kalau situasinya seperti itu, hujan memang terasa menenangkan.
Tapi coba ganti sedikit skenarionya.
Hujan turun tepat saat kita baru pulang kerja atau pulang hangout.
Turun dari stasiun, lalu sadar masih harus jalan kaki sekitar sepuluh menit sampai rumah.
Tidak punya kendaraan pribadi.
Naik taksi rasanya nanggung.
Naik ojek motor? Sama saja, ujung-ujungnya basah juga.
Payung yang dibawa pun cuma payung biasa yang entah kenapa selalu gagal melindungi bagian tubuh yang paling penting untuk tetap kering.
Kalau cuma gerimis manis sih masih bisa diterima.
Tapi kalau hujan deras?
Nah.
Di titik itulah saya mulai mempertanyakan semua orang yang bilang hujan itu menenangkan.
Masih bisa bilang,
"Saya suka hujan. Rasanya menenangkan dan bikin melow..."
Apanya yang menenangkan?
Melow dari Hong Kong?
Yang ada sepanjang perjalanan pulang isinya mengumpat dalam hati.
"Sialan."
"Kok makin deras?"
"Padahal tadi belum hujan."
"Sepatu basah."
"Celana basah."
"Kaos kaki basah."
Dan tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang terlihat romantis dengan kaos kaki basah.
Tidak ada.
Belum lagi kalau kebetulan sedang membawa tas kerja.
Di dalamnya ada laptop.
Ada charger.
Ada kabel-kabel dan segala printilan yang harganya tidak murah.
Atau mungkin bawa oleh-oleh hasil hangout yang sudah dipilih dengan susah payah.
Sepanjang jalan pulang yang dipikirkan bukan lagi suasana hujan yang syahdu.
Yang dipikirkan cuma satu:
"Tolonglah jangan sampai semuanya basah."
Jadi ya, saya memang suka hujan.
Tapi saya suka hujan versi yang dilihat dari balik jendela.
Bukan hujan yang mengharuskan saya berjalan kaki sepuluh menit dari stasiun dengan kondisi basah kuyup, kedinginan, dan menyesali semua keputusan hidup yang membawa saya keluar rumah hari itu.
Kalau hujan turun saat saya sudah sampai rumah?
Wah, romantis sekali.
Silakan turun semalaman juga tidak masalah.
Tapi kalau saya masih ada di luar?
Maaf ya.
Untuk sementara, saya dan hujan sedang tidak akur.

Comments
Post a Comment