Random September Thoughts
Sudah memasuki bulan September, tapi cuaca masih terasa panas.
Di Jepang ada istilah 残暑 (zansho), alias sisa-sisa panas setelah musim panas berakhir. Padahal secara kalender, September sudah masuk musim gugur. Tapi kenyataannya, cuaca biasanya baru benar-benar sejuk dan terasa "fall banget" sekitar akhir Oktober.
Artinya?
Masih ada sekitar satu setengah bulan lagi yang harus dilewati sebelum bisa menikmati udara adem tanpa AC.
September juga selalu mengingatkan saya pada satu hal.
Tanggal 11 September, beberapa tahun lalu, saya tiba di Jepang untuk memulai kehidupan baru. Pekerjaan baru, lingkungan baru, teman-teman baru, tantangan baru, dan tentu saja... masalah baru juga. Haha.
Waktu itu saya datang dengan perasaan campur aduk antara semangat, penasaran, takut, dan nekat.
Kalau dipikir-pikir sekarang, rasanya seperti baru kemarin.
Padahal tahu-tahu tahun depan saya sudah genap 10 tahun tinggal di Jepang.
Cepat sekali.
Mulai Bosan Tinggal di Jepang?
Akhir-akhir ini saya sering memikirkan sesuatu yang dulu hampir tidak pernah terlintas di kepala.
Saya ingin mencoba tinggal di negara lain.
Kenapa?
Jawaban paling jujurnya mungkin sederhana.
Karena saya mulai bosan tinggal di Jepang.
Hahahaha.
Bukan berarti saya tidak suka Jepang.
Justru sebaliknya.
Jepang sudah memberi saya banyak sekali pengalaman hidup yang mungkin tidak akan saya dapatkan kalau memilih tetap tinggal di Indonesia.
Tapi setelah hampir satu dekade berada di tempat yang sama, kadang muncul rasa ingin mencoba sesuatu yang berbeda.
Apalagi belakangan ini harga barang makin naik.
Biaya hidup naik.
Tagihan ini itu naik.
Bahkan biaya berbagai urusan administratif keimigrasian juga ikut naik.
Sementara kenaikan gaji tahunan rasanya tidak selalu bisa mengimbangi kenaikan biaya hidup yang terjadi.
Bagian ini penting.
Sangat penting.
Karena idealisme memang indah, tapi isi dompet tetap harus diperhatikan 😌
Bucket List Jepang yang Hampir Semuanya Sudah Centang
Kalau dipikir-pikir lagi, mungkin salah satu alasan kenapa mulai muncul keinginan untuk tinggal di negara lain adalah karena sebagian besar impian saya di Jepang sudah terwujud.
Saya sudah:
- Nonton konser Arashi, L'Arc-en-Ciel, Yuzu.
- Datang ke anime dan manga event.
- Ikut berbagai exhibition.
- Berburu anime merch dan collab cafe.
- Datang ke event seiyuu.
- Keliling Jepang dari Hokkaido sampai Okinawa.
- Mendapat pekerjaan yang baik.
- Merasakan tinggal sebagai penduduk lokal.
- Menikmati empat musim.
- Wisata kuliner ke berbagai daerah.
- Dan masih banyak lagi.
Rasanya sebagian besar checklist yang dulu saya tulis diam-diam di kepala sudah tercentang satu per satu.
Setelah Arashi menghentikan aktivitas grupnya, tujuan hidup saya di Jepang sekarang mungkin tinggal mengikuti event anime dan menikmati euforia budaya anime langsung di negara asalnya.
Jujur saja.
Kalau tidak ada anime, event seiyuu, dan berbagai hal berbau pop culture Jepang, mungkin motivasi saya tinggal di sini sudah berkurang cukup banyak 😆
![]() |
| Nonton konser L’Arc-en-Ciel sama para bocils |
Belajar Bahasa Lagi
Belakangan ini saya mulai belajar bahasa asing selain bahasa Jepang.
Sekaligus membereskan bahasa Inggris saya yang selama ini rasanya masih amburadul.
Selama tinggal di Jepang, saya semakin sadar bahwa bahasa itu sangat penting.
Bukan cuma untuk bekerja.
Tapi juga untuk benar-benar hidup di suatu negara.
Karena ketika kita bisa bahasa lokal, pengalaman hidup yang kita dapatkan terasa jauh lebih dalam.
Kalau suatu hari diberi kesempatan untuk tinggal di negara lain, saat ini negara yang paling membuat saya penasaran adalah:
- Belanda
- Denmark
- Jerman
Semoga suatu hari bisa terwujud.
Amin.
Kontrol Rutin ke Rumah Sakit
Kemarin saya pergi ke rumah sakit untuk kontrol rutin pasca operasi.
Biasanya saya kontrol sebulan sekali.
Tapi kali ini dokter mengatakan kondisi saya stabil dan baik, sehingga jadwal kontrol diubah menjadi tiga bulan sekali.
Kabar yang tentunya sangat saya syukuri.
Tapi ada satu hal yang menarik.
Karena sudah cukup lama tidak datang ke rumah sakit, saat saya masuk ke gedung rumah sakit, duduk menunggu nomor antrean, masuk ke ruang dokter, lalu menebus obat yang jumlahnya tidak sedikit, saya seperti diingatkan kembali oleh sesuatu.
"Oh iya."
"Saya memang sakit."
Ada bagian tubuh saya yang sudah tidak ada lagi.
Ada kondisi kesehatan yang akan saya bawa sepanjang hidup.
Dan itulah kenapa saya masih harus rutin kontrol ke rumah sakit.
Karena dalam keseharian, saya sering lupa.
Saya bekerja, jalan-jalan, ngebolang, ketawa-ketawa, menulis blog, dan menjalani hidup seperti biasa.
Sampai akhirnya rumah sakit kembali mengingatkan bahwa tubuh saya memang tidak sepenuhnya sama seperti dulu.
Dan entah kenapa, saya merasa itu bukan hal yang menyedihkan lagi.
Hanya sebuah fakta yang sudah menjadi bagian dari hidup saya.
Tentang Hujan Deras di Jepang
Akhir-akhir ini hujan deras terjadi di banyak daerah Jepang.
Beberapa wilayah bahkan mengalami banjir dan ada juga korban yang terdampak.
Setiap kali menonton berita, rasanya hampir selalu ada laporan mengenai hujan deras.
Tapi terus terang saja...
Saya mungkin punya perspektif yang sedikit berbeda.
Mungkin karena saya besar di Indonesia.
Banjir, hujan deras, sungai meluap, motor mogok di jalan, sampai menerjang genangan air saat pulang sekolah atau pulang kerja sudah seperti bagian dari kehidupan sehari-hari.
Jadi ketika melihat berita banjir setinggi lutut di Jepang dan berbagai peringatan darurat bermunculan di mana-mana, kadang dalam hati saya berpikir:
"Eh? Segini aja?"
Lalu langsung sadar.
Oh iya.
Saya sedang membandingkan standar Indonesia dengan standar Jepang.
😂
Jadi mungkin bukan mereka yang berlebihan.
Mungkin saya yang sudah terlalu terbiasa hidup dalam mode survival sejak kecil.
#laluDitimpukSemuaWargaJepang
Kerjaan Masih Sama, dan Itu Hal Baik
Kalau soal pekerjaan, tidak banyak yang berubah.
Puji Tuhan.
Alhamdulillah.
Masih berjalan lancar seperti biasa.
Masih dengan pola kerja setengah WFH dan setengah WFO.
Semakin lama, saya semakin sadar bahwa fleksibilitas untuk memilih hari kerja dari rumah atau dari kantor adalah privilege yang luar biasa.
Terutama setelah operasi.
Karena kondisi badan kadang tidak bisa diprediksi.
Ada hari-hari ketika saya merasa sangat fit.
Ada juga hari-hari ketika energi rasanya lebih cepat habis.
Jadi sistem kerja seperti sekarang benar-benar sangat membantu.
Dan saya sangat bersyukur untuk itu.
Menambah Teman Baru di Kamar
Belakangan ini saya juga menambah beberapa "teman baru" di kamar.
Yaitu tanaman.
Beberapa houseplant kecil mulai menghuni sudut-sudut ruangan saya.
Saya juga rutin membeli bunga segar setiap minggu untuk ditaruh di rumah.
Dan ternyata memang benar.
Rumah terasa lebih adem.
Lebih hidup.
Lebih menenangkan.
Kadang pulang kerja dan melihat tanaman-tanaman itu saja sudah cukup membuat mood membaik.
Ternyata usia memang tidak bisa dibohongi.
Dulu bahagia karena beli merch.
Sekarang bahagia karena daun baru tumbuh.
😌
Mengurangi Merch Anime dan Collab Cafe
Perubahan lain yang cukup terasa adalah saya mulai mengurangi membeli merch anime dan pergi ke collab cafe.
Alasannya sederhana.
Saya mulai sadar bahwa sebagian besar merch pada akhirnya hanya menambah barang di rumah.
Lalu berdebu.
Lalu bingung mau diapakan.
Sementara collab cafe sering kali mahal, tapi rasa makanan dan minumannya biasa saja.
Kadang malah aneh.
Yang sebenarnya dijual memang bukan makanannya.
Tapi pengalaman dan karakter animenya.
Belum lagi akhir-akhir ini beberapa kali muncul berita mengenai staff cafe yang memilih-milih novelty bonus untuk diberikan kepada teman atau kenalan mereka.
Padahal seharusnya dibagikan secara acak.
Kalau sudah begitu, rasanya jadi malas.
Ternyata konspirasi orang dalam memang ada di mana-mana ya.
Bahkan di Jepang.
😂
Prioritas yang Mulai Berubah
Budget yang dulu saya pakai untuk merch anime dan collab cafe sekarang mulai dialihkan ke hal-hal lain.
Cafe hopping.
Wisata kuliner.
Berburu toko roti enak dari satu kota ke kota lain.
Mencoba dessert baru.
Mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah saya datangi.
Dan tentu saja...
Ngebolang.
Karena pada akhirnya yang paling saya ingat bukan barang yang saya beli.
Tapi pengalaman yang saya jalani.
Untuk urusan anime sendiri, sekarang rasanya cukup menikmati lewat Netflix, bermain dengan koleksi Nendoroid di rumah, dan sesekali datang ke event seiyuu kalau kebetulan lolos lottery.
Jauh lebih hemat.
Dan ternyata sama menyenangkannya.
Mungkin segitu dulu update kehidupan saya kali ini.
Kalau dipikir-pikir, tidak ada perubahan yang terlalu besar. Tidak ada berita spektakuler. Tidak ada pencapaian luar biasa.
Hanya kumpulan hal-hal kecil yang pelan-pelan berubah seiring bertambahnya usia.
Cara menghabiskan uang berubah.
Cara melihat kesehatan berubah.
Cara menikmati hobi berubah.
Bahkan impian tentang masa depan pun perlahan mulai berubah.
Dan mungkin itu tandanya saya memang sedang memasuki bab kehidupan yang baru.
Sampai jumpa di cerita berikutnya.
Dan terima kasih sudah membaca sampai akhir. 😊
Catatan penulis: kalau ada yang punya rekomendasi negara untuk ditinggali setelah Jepang, terutama yang ramah untuk jalan kaki, banyak kafe dan toko rotinya, serta tidak terlalu ramai, boleh kasih tahu. Siapa tahu saya sedang mencari alasan baru untuk ngebolang lebih jauh. 😆



Comments
Post a Comment