Cerita di kafe hari ini
Pagi ini saya nongkrong di sebuah kafe dekat rumah sambil nunggu jadwal periksa mata. Rencananya mau bikin lensa kontak baru, biar hidup saya sedikit lebih fokus—secara harfiah maupun batiniah.
Tapi karena masih ada waktu, saya mampir dulu ke kafe buat update blog.
Begitu masuk kafe, saya langsung menjalankan ritual nongkrong versi saya: cari tempat duduk mojok. Kalau mojoknya penuh atau mepet banget sampai pemandangannya cuma tembok putih, saya tetap oke duduk di tengah.
Untungnya orang Jepang biasanya tidak rese dan tidak berisik, jadi meja tengah pun masih terasa seperti ruang pribadi.
Setelah duduk, saya pasti pesan kopi andalan kafe tersebut.
Kalau mereka terkenal dengan latte, saya pesan latte.
Kalau mereka punya house blend, saya pesan itu.
Dan selalu dengan extra shot, karena hidup sudah cukup hambar tanpa kopi yang kuat.
Biasanya saya pesan minuman panas supaya rasanya tidak jadi encer kalau didiamkan lama.
Tapi hari ini panas banget—musim panas Jepang memang suka bercanda—jadi saya pesan iced latte saja.
Kafe ini memang terkenal dengan latte-nya, jadi aman.
Sesekali nyeruput minuman, sesekali lihat pemandangan di luar jendela, sesekali observasi manusia di sekitar.
Namanya juga nongkrong sendiri, bebas dong.
Mau bengong terus juga tidak ada yang judge.
Tidak perlu pura‑pura tertarik dengan cerita orang lain.
Reset pikiran versi murah meriah.
Nah, bicara soal observasi manusia, di sebelah kiri saya duduk sepasang couple muda.
Usia dua puluhan awal, masih fresh‑freshnya jadi manusia.
Tapi sejak mereka datang, mereka cuma ngobrol dua kali.
Dua kali.
Bahkan saya yang pakai headphone pun kedengeran.
Selebihnya? Sibuk dengan smartphone masing‑masing.
Saya sampai mikir: buat apa datang bareng ke kafe kalau akhirnya ngobrolnya sama orang di dalam layar?
Kalau mau diem‑dieman, mending datang sendiri kayak saya.
Setidaknya kalau saya bengong, itu pilihan sadar, bukan karena kehabisan topik.
Waitress datang, nganterin pesanan mereka.
Si cewek pesan hot latte, si cowok pesan pasta yang aromanya sampai ke saya—harum banget, sampai saya sempat mempertanyakan pilihan hidup saya yang cuma pesan minuman.
Si cewek pesan hot latte, si cowok pesan pasta yang aromanya sampai ke saya—harum banget, sampai saya sempat mempertanyakan pilihan hidup saya yang cuma pesan minuman.
Tapi ya tetap saja, mereka makan sambil sibuk dengan layar masing‑masing.
Ngobrol kek. Ngobrol atuh, da wawuh.
Di sebelah kanan saya, ada cewek duduk sendiri.
Dan jujur, dia terlihat jauh lebih bahagia daripada couple tadi.
Makan tenang, sesekali main HP, sesekali bengong, lalu makan lagi.
Mirip saya, cuma saya sambil ngetik laporan siaran langsung ini.
Kadang saya merasa, nongkrong sendiri itu underrated.
Kita bisa bengong tanpa di-judge, bisa pesan apa pun tanpa ada yang komentar, dan yang paling penting: tidak perlu pura‑pura tertarik dengan cerita orang lain.
Ah, hidup.


Comments
Post a Comment