Sapporo, Arashi, dan Hostel Paling Homie yang Pernah Saya Inapi
Ini adalah kali ketiga saya mengunjungi pulau paling utara sekaligus paling dingin di Jepang.
Saking dinginnya, suhu antara Hokkaido dan Tokyo kadang bisa beda jauh banget.
Di waktu yang sama, saat saya pergi ke Hokkaido, suhu di sana sudah minus satu derajat!
Ditambah badai salju, jalanan penuh es, dan angin yang datang dari segala penjuru arah.
...kenapa harus lagu India sih?
"The cold never bothered me anyway."
Anyway, kunjungan saya ke Hokkaido kali ini sebenarnya bertujuan untuk nonton konser Arashi.
Karena merasa sayang tiket pesawatnya sudah mahal dan lokasinya sejauh Hokkaido, ditambah saat itu saya sedang libur panjang, saya berpikir:
"Kenapa nggak sekalian ngebolang aja?"
Apalagi entah kenapa tiket pesawat LCC ke Hokkaido saat itu melonjak sampai hampir tiga kali lipat. Hotel dan hostel pun penuh di mana-mana.
Tanggal yang saya pilih bertepatan dengan konser Arashi.
Di tanggal lain harga masih normal.
Antara senang dan sedih, ya.
Sedih karena dompet menangis.
Saya mulai berburu tiket pesawat dan penginapan sekitar dua bulan sebelum keberangkatan.
Setelah menjelajah sana-sini, akhirnya saya menemukan sebuah hostel di sekitar Sapporo lengkap dengan tiket pesawat pulang-pergi dari Narita Airport ke New Chitose Airport.
Hostel pilihan saya adalah Otarunai Backpackers Hostel Morinoki.
Sesuai namanya, hostel ini memang ditujukan untuk para backpacker dan ternyata sudah berdiri lebih dari dua puluh tahun.
Kalau membaca cerita di situs resminya, pemilik hostel ini dulunya seorang backpacker yang sudah berkeliling dunia. Setelah itu beliau ingin membuat semacam base camp bagi para backpacker yang berkunjung ke Hokkaido.
Dan saya langsung suka bahkan sebelum menginjakkan kaki di sana.
Meski masih masuk area Sapporo...
...ya, yang penting masih Sapporo, kan?
jangan berharap hostel ini berada di tengah kota atau dekat dengan Sapporo Dome yang menjadi tujuan utama saya.
Lokasinya cukup jauh di pinggiran.
Karena saat tiba di New Chitose Airport saya langsung menuju venue konser, saya bahkan belum sempat mencari tahu seperti apa perjalanan menuju hostel.
Menurut Navitime, dari Sapporo Dome saya harus berjalan kaki menuju stasiun terdekat, naik kereta ke Sapporo Station, pindah kereta menuju Otaru, lalu lanjut jalan kaki sekitar 10-15 menit.
Kedengarannya sederhana.
Kenyataannya?
Karena penontonnya luar biasa banyak, hanya untuk keluar dari kursi menuju pintu keluar Dome saja memakan waktu hampir satu jam.
Lalu antre lagi untuk masuk ke kereta.
Begitu berhasil naik kereta pun, perjalanan tidak langsung lancar karena kereta mengalami keterlambatan akibat membludaknya penumpang.
Akhirnya saya tiba di Otaru Station sekitar pukul 23:45.
Makin panik karena hostel menerapkan jam malam supaya tidak mengganggu tamu lain.
Di kepala saya mulai muncul berbagai kemungkinan.
"Waduh... jangan-jangan pintunya sudah dikunci."
Begitu keluar dari Otaru Station, saya langsung disambut tumpukan salju tebal, hawa dingin yang makin menusuk, dan badai salju yang entah kenapa memilih muncul tepat saat saya datang.
Padahal dua hari sebelumnya cuaca masih cerah.
Tapi setelah seharian beraktivitas, baru selesai konser, setengah beku, dan dihantam badai salju...
saya merasa keputusan paling bijak malam itu adalah naik taksi.
Tanpa banyak berpikir lagi, saya langsung menyetop satu taksi yang lewat.
Karena badai salju cukup deras, mobil berjalan pelan.
Tepat tengah malam saya tiba di depan hostel.
si bapak owner masih setia menunggu.
"Oh, habis nonton konser Arashi di Sapporo Dome ya? Pasti penuh sekali."
Ada kamar dormitory khusus laki-laki dan perempuan.
Ada kotatsu yang hangat.
ada dua penghuni menggemaskan yang menjadi maskot tidak resmi hostel ini.
Seekor kucing bernama Momo dan seekor anjing bernama Hagu.
Baru setelah itu bisa selonjoran dengan damai.
Di dalamnya terdapat tiga bunk bed yang berarti satu kamar bisa dihuni enam orang.
Saya mendapat tempat tidur bagian atas, dekat jendela yang menghadap ke halaman hostel.
Jadi bisa memantau situasi dengan leluasa.
#HALAH
Ruangannya tidak besar.
Hanya sebuah area sederhana dengan meja makan, dapur kecil, perpustakaan mini, dan penghangat ruangan.
Sedangkan Hagu lebih suka rebahan di kotatsu atau menjaga area dekat pintu masuk.
Begitu ada orang datang, dia langsung bersuara seolah ingin memberi tahu sang owner.
Cukup membayar 300 yen dan saya bisa menikmati sarapan rumahan ala Jepang.
Menunya tergantung mood yang memasak hari itu.
Haha.
Karena rasanya lebih seru makan bersama penghuni hostel lain daripada makan sendirian di luar, saya langsung mengiyakan.
Nasi putih hangat, sup miso, salad, dan asinan lobak.
Mungkin karena cuaca dingin.
Mungkin karena lapar.
Atau mungkin karena masakan rumahan memang selalu punya kekuatan tersendiri.
Ada orang Jepang.
Ada orang Tiongkok yang ternyata sama-sama penggemar Arashi.
Ada dari Italia.
Dan ada satu orang dari Amerika Latin yang saya lupa asal negaranya, tapi bahasa Inggrisnya beraksen Spanyol.
Kita bisa bertemu orang-orang yang tidak pernah kita kenal sebelumnya, berbagi cerita, lalu melanjutkan perjalanan masing-masing.
Sayangnya...
di luar sedang BADAI SALJU.
Makanya jangan sok-sokan pakai sneaker biasa.
Sepanjang perjalanan, pemandangan putih bersalju membentang di luar jendela.
Cantik sekali.
Begitu lihat salju langsung bahagia.
Meski semalam ngeluh kedinginan setengah mati.
Namun melihat kondisi cuaca yang semakin brutal, saya memutuskan menyerah dengan elegan.
Window shopping.
Makan siang Soup Curry yang jadi kuliner khas Hokkaido.
| Salah satu kuliner Hokkaido yang terkenal adalah Soup Curry, dimana kuah sup-nya nggak begitu kental dengan rasa kare yang khas dan cocok banget dimakan di cuaca dingin. |
Akhirnya saya memutuskan kembali ke hostel sebelum gelap.
Sesampainya di sana, saya langsung meringkuk di bawah kotatsu sambil membaca buku.
Di sebelah saya, Hagu juga ikut rebahan dengan santainya.
Besok saya harus kembali ke Tokyo dan mengakhiri petualangan singkat di Sapporo.
| Dipotoin sama Bapa Owner yang baeeek banget sebelum cus meninggal Hostel. |
Terima kasih untuk Momo dan Hagu yang sudah menemani.
Dan terima kasih, Sapporo.
Meski disambut badai salju dan suhu minus, saya tetap pulang membawa banyak cerita hangat.
Sapporo, Hokkaido
November 2019
Comments
Post a Comment