Sapporo, Arashi, dan Hostel Paling Homie yang Pernah Saya Inapi

Beberapa tahun lalu saya pergi ke Hokkaido, tepatnya ke Sapporo.

Ini adalah kali ketiga saya mengunjungi pulau paling utara sekaligus paling dingin di Jepang.
Saking dinginnya, suhu antara Hokkaido dan Tokyo kadang bisa beda jauh banget.

Misalnya waktu musim gugur bulan November. Di Tokyo suhu masih berkisar 15-18 derajat. Cuaca cerah, angin biasa saja, dan masih enak buat jalan-jalan di luar rumah.
Di waktu yang sama, saat saya pergi ke Hokkaido, suhu di sana sudah minus satu derajat!
Ditambah badai salju, jalanan penuh es, dan angin yang datang dari segala penjuru arah.

Kalau di Tokyo saya masih bisa nyanyi India sambil keliling-keliling di luar rumah
...kenapa harus lagu India sih?

di Hokkaido yang ada saya nyanyi bareng Putri Elsa.
"The cold never bothered me anyway."

BOHONG BANGET.

DINGIN, MAAK!

Makhluk tropis langsung cranky begitu disambut badai salju.


Anyway, kunjungan saya ke Hokkaido kali ini sebenarnya bertujuan untuk nonton konser Arashi.

Karena merasa sayang tiket pesawatnya sudah mahal dan lokasinya sejauh Hokkaido, ditambah saat itu saya sedang libur panjang, saya berpikir:

"Kenapa nggak sekalian ngebolang aja?"

Apalagi entah kenapa tiket pesawat LCC ke Hokkaido saat itu melonjak sampai hampir tiga kali lipat. Hotel dan hostel pun penuh di mana-mana.

Setelah ditelusuri, ternyata penyebabnya sederhana.
Tanggal yang saya pilih bertepatan dengan konser Arashi.
Di tanggal lain harga masih normal.
Antara senang dan sedih, ya.

Senang karena mau nonton Arashi.
Sedih karena dompet menangis.
Saya mulai berburu tiket pesawat dan penginapan sekitar dua bulan sebelum keberangkatan.

Karena malas ribet, saya mencari paket yang sudah termasuk tiket pesawat dan akomodasi lewat situs travel.
Setelah menjelajah sana-sini, akhirnya saya menemukan sebuah hostel di sekitar Sapporo lengkap dengan tiket pesawat pulang-pergi dari Narita Airport ke New Chitose Airport.

Hostel pilihan saya adalah Otarunai Backpackers Hostel Morinoki.

Sesuai namanya, hostel ini memang ditujukan untuk para backpacker dan ternyata sudah berdiri lebih dari dua puluh tahun.

Kalau membaca cerita di situs resminya, pemilik hostel ini dulunya seorang backpacker yang sudah berkeliling dunia. Setelah itu beliau ingin membuat semacam base camp bagi para backpacker yang berkunjung ke Hokkaido.

Lalu lahirlah hostel ini.
Dan saya langsung suka bahkan sebelum menginjakkan kaki di sana.
Meski masih masuk area Sapporo...
...ya, yang penting masih Sapporo, kan?

jangan berharap hostel ini berada di tengah kota atau dekat dengan Sapporo Dome yang menjadi tujuan utama saya.
Lokasinya cukup jauh di pinggiran.

Karena saat tiba di New Chitose Airport saya langsung menuju venue konser, saya bahkan belum sempat mencari tahu seperti apa perjalanan menuju hostel.

Menurut Navitime, dari Sapporo Dome saya harus berjalan kaki menuju stasiun terdekat, naik kereta ke Sapporo Station, pindah kereta menuju Otaru, lalu lanjut jalan kaki sekitar 10-15 menit.

Total perjalanan sekitar satu jam lima belas menit.
Kedengarannya sederhana.
Kenyataannya?

Tidak sesederhana itu, Ferguso.

Konser selesai sekitar pukul 21:30.
Karena penontonnya luar biasa banyak, hanya untuk keluar dari kursi menuju pintu keluar Dome saja memakan waktu hampir satu jam.

Setelah itu masih harus antre menuju stasiun.
Lalu antre lagi untuk masuk ke kereta.

Begitu berhasil naik kereta pun, perjalanan tidak langsung lancar karena kereta mengalami keterlambatan akibat membludaknya penumpang.

Akhirnya saya tiba di Otaru Station sekitar pukul 23:45.

Padahal sebelumnya saya sudah berjanji kepada pemilik hostel bahwa saya akan tiba sekitar pukul 23:00.
Makin panik karena hostel menerapkan jam malam supaya tidak mengganggu tamu lain.
Di kepala saya mulai muncul berbagai kemungkinan.
"Waduh... jangan-jangan pintunya sudah dikunci."

Begitu keluar dari Otaru Station, saya langsung disambut tumpukan salju tebal, hawa dingin yang makin menusuk, dan badai salju yang entah kenapa memilih muncul tepat saat saya datang.

Padahal dua hari sebelumnya cuaca masih cerah.

Dari stasiun sebenarnya hostel masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki.
Tapi setelah seharian beraktivitas, baru selesai konser, setengah beku, dan dihantam badai salju...
saya merasa keputusan paling bijak malam itu adalah naik taksi.

Tanpa banyak berpikir lagi, saya langsung menyetop satu taksi yang lewat.
Karena badai salju cukup deras, mobil berjalan pelan.
Tepat tengah malam saya tiba di depan hostel.

Dan syukurlah...
si bapak owner masih setia menunggu.

Sun tangan dulu.

Beliau langsung mempersilakan saya masuk.

Begitu melihat tas berlogo Arashi yang saya bawa, beliau hanya tersenyum maklum.
"Oh, habis nonton konser Arashi di Sapporo Dome ya? Pasti penuh sekali."

Duh.
Baik banget.

Kayaknya beliau sudah hafal kalau musim konser Arashi adalah musim para backpacker pulang tengah malam.



Hostel tempat saya menginap kali ini benar-benar homie.
Bangunannya didominasi kayu bergaya Jepang yang hangat dan sederhana.

Ada perpustakaan mini yang sebagian besar berisi koleksi manga favorit owner.
Ada kamar dormitory khusus laki-laki dan perempuan.
Ada kotatsu yang hangat.

Dan yang paling penting...
ada dua penghuni menggemaskan yang menjadi maskot tidak resmi hostel ini.
Seekor kucing bernama Momo dan seekor anjing bernama Hagu.

Momo


Hagu

Setelah check-in, mendengarkan penjelasan aturan hostel, dan ditunjukkan kamar, sebenarnya saya ingin langsung melempar tas lalu rebahan.

Pengennya begitu.

Tapi sebagai manusia yang masih punya kewajiban dasar, saya tetap harus mandi, gosok gigi, ganti baju, dan merapikan barang terlebih dahulu.
Baru setelah itu bisa selonjoran dengan damai.

Kamar yang saya tempati adalah dormitory khusus perempuan.
Di dalamnya terdapat tiga bunk bed yang berarti satu kamar bisa dihuni enam orang.

Saat saya masuk, hampir semua penghuni sudah tertidur pulas.
Saya mendapat tempat tidur bagian atas, dekat jendela yang menghadap ke halaman hostel.
Jadi bisa memantau situasi dengan leluasa.
#HALAH

Karena sudah sangat malam, hanya saya yang masih sibuk grasak-grusuk sementara penghuni lainnya sudah terlelap.

…

Keesokan paginya saya terbangun dan langsung melihat tumpukan salju dari jendela samping tempat tidur.

"Oh iya..."
Saya sedang berada di Hokkaido.

Entah karena masih setengah mengantuk atau karena konser Arashi semalam terasa seperti mimpi, beberapa detik pertama setelah bangun saya sempat lupa sedang berada di pulau paling utara Jepang.



Setelah bersiap-siap, saya turun menuju ruang makan hostel.

Ruangannya tidak besar.
Hanya sebuah area sederhana dengan meja makan, dapur kecil, perpustakaan mini, dan penghangat ruangan.
Tapi justru tempat seperti ini yang membuat suasananya terasa hangat.

Biasanya Momo nongkrong di dekat penghangat atau keliling dapur mencari perhatian.
Sedangkan Hagu lebih suka rebahan di kotatsu atau menjaga area dekat pintu masuk.
Begitu ada orang datang, dia langsung bersuara seolah ingin memberi tahu sang owner.

Dan ya, saya juga mendapat sambutan resmi dari Hagu saat pertama kali tiba.

Pagi itu salah satu staf hostel menawarkan sarapan.
Cukup membayar 300 yen dan saya bisa menikmati sarapan rumahan ala Jepang.
Menunya tergantung mood yang memasak hari itu.
Haha.

Karena rasanya lebih seru makan bersama penghuni hostel lain daripada makan sendirian di luar, saya langsung mengiyakan.

Menu pagi itu sederhana.
Nasi putih hangat, sup miso, salad, dan asinan lobak.

Tapi serius, rasanya nikmat banget.
Mungkin karena cuaca dingin.
Mungkin karena lapar.
Atau mungkin karena masakan rumahan memang selalu punya kekuatan tersendiri.


Saat sarapan saya satu meja dengan penghuni hostel dari berbagai negara.

Ada orang Jepang.
Ada orang Tiongkok yang ternyata sama-sama penggemar Arashi.
Ada dari Italia.
Dan ada satu orang dari Amerika Latin yang saya lupa asal negaranya, tapi bahasa Inggrisnya beraksen Spanyol.

Momen seperti ini selalu jadi salah satu alasan saya suka menginap di hostel.
Kita bisa bertemu orang-orang yang tidak pernah kita kenal sebelumnya, berbagi cerita, lalu melanjutkan perjalanan masing-masing.

Setelah sarapan, saya berangkat ke Sapporo.
Sayangnya...
di luar sedang BADAI SALJU.

Lagi.

Padahal tadi pagi sempat terlihat cerah.
Tapi ya, kalau menyerah hanya karena badai salju, mungkin bukan saya namanya.

Dengan sepatu yang ternyata kurang cocok untuk jalanan bersalju, ditambah beberapa kali terpeleset di atas es, saya tetap berjalan menuju stasiun terdekat.
Makanya jangan sok-sokan pakai sneaker biasa.

Dari Otaru saya naik kereta menuju Sapporo.
Sepanjang perjalanan, pemandangan putih bersalju membentang di luar jendela.
Cantik sekali.
Membuat saya makin jatuh cinta pada Hokkaido.

Makhluk tropis mah begini.
Begitu lihat salju langsung bahagia.
Meski semalam ngeluh kedinginan setengah mati.

Sesampainya di Sapporo Station, saya sebenarnya berencana mengunjungi beberapa spot wisata terkenal.
Namun melihat kondisi cuaca yang semakin brutal, saya memutuskan menyerah dengan elegan.

Hari itu saya hanya berjalan-jalan di sekitar area stasiun.
Window shopping.
Makan siang Soup Curry yang jadi kuliner khas Hokkaido.

Salah satu kuliner Hokkaido yang terkenal adalah Soup Curry, dimana kuah sup-nya nggak begitu kental dengan rasa kare yang khas dan cocok banget dimakan di cuaca dingin.

Soup Curry yang gue pesan adalah Seafood and Vegetables Soup Curry yang berisi bahan makanan laut khas Hokkaido seperti udang, cumi, kerang, tiram plus beragam sayuran mulai dari terung, wortel, akar teratai langsung dari pertanian Hokkaido yang fresh, dengan kuah khas seafood yang bikin badan anget.

Menjelang sore, badai salju masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.
Akhirnya saya memutuskan kembali ke hostel sebelum gelap.

Sesampainya di sana, saya langsung meringkuk di bawah kotatsu sambil membaca buku.
Di sebelah saya, Hagu juga ikut rebahan dengan santainya.

Malam itu saya tidak punya agenda apa-apa selain beristirahat.
Besok saya harus kembali ke Tokyo dan mengakhiri petualangan singkat di Sapporo.


Dipotoin sama Bapa Owner yang baeeek banget sebelum cus meninggal Hostel.

Terima kasih untuk hostel yang hangat dan segala keramahannya.
Terima kasih untuk Momo dan Hagu yang sudah menemani.

Dan terima kasih, Sapporo.
Meski disambut badai salju dan suhu minus, saya tetap pulang membawa banyak cerita hangat.

Semoga suatu hari nanti saya bisa kembali lagi.

Sapporo, Hokkaido
November 2019


Comments

Popular posts from this blog

Wild Heroes

Kumiai

[My Favorite] : yang akhir-akhir ini bikin kecanduan