Miom Rahim
Hampir enam bulan sejak saya didiagnosa punya Fibroid Rahim—atau Miom Rahim, kalau mau pakai istilah yang lebih familiar. Kalau baru pertama kali dengar, silakan tanya Mbah Google. Saya pun begitu waktu pertama kali dikasih tahu.
Semua berawal di akhir April 2025, musim semi yang harusnya indah tapi buat saya malah penuh drama asam lambung.
Beberapa bulan sebelumnya, asam lambung saya makin parah sampai saya bangun tiap pagi bukan karena alarm, tapi karena dada panas, tenggorokan gatal, batuk kering, dan gas berlebihan. Saya pikir itu cuma maag biasa. Saya minum obat apotek, berharap sembuh. Ternyata tubuh saya punya plot twist.
Saya akhirnya ke klinik spesialis lambung. Dokternya bilang perut saya keras dan menggelembung. Saya disuruh endoskopi. Hasilnya? Ada banyak “garam” di lambung saya. Saya tidak tahu itu garam jenis apa, tapi fotonya terlihat seperti glitter pesta ulang tahun. Dokter bilang itu penyebab gas dan asam lambung berlebih.
Oke, masuk akal.
Tapi lalu dokter bilang ada “sesuatu” lain di perut saya. Sesuatu yang cukup besar. Sesuatu yang bukan glitter. Sesuatu yang berasal dari rahim. Saya langsung dirujuk ke rumah sakit pusat, bagian Ginekologi.
Saya datang tanpa booking, jadi menunggu lama. Akhirnya bertemu Dokter spesialis. USG dilakukan. Dan di layar, terlihat jelas: benda asing besar di rahim saya.
Dokter bilang, “Ini Fibroid Rahim.” Saya bengong. Baru pertama kali dengar.
Dokter juga bengong, karena ukurannya sudah sebesar melon.
Saya ditanya sejak kapan gejalanya. Saya jawab: mungkin beberapa bulan… atau beberapa tahun… karena saya benar-benar tidak tahu.
Selama ini saya memang merasa perut saya membesar. Tapi saya pikir saya gemuk. Atau gas. Atau maag. Atau semua hal yang lebih mudah disangkal daripada “ada benda sebesar melon di rahim saya.”
Perut saya membesar tapi badan lain tidak ikut. Menjelang menstruasi, perut saya makin besar sampai saya malas keluar rumah. Sakit pinggang, punggung, sesak napas.
Saya sering bingung mau pakai baju apa karena tidak ada yang nyaman.
Beberapa tahun lalu, waktu masih di Indonesia, saya pernah sakit perut bawah sampai pingsan dan bed rest sepuluh hari. Saya periksa ke dokter, klinik, rumah sakit.
Tidak ada yang bilang soal fibroid. Saya cuma dikasih obat pereda nyeri. Menstruasi saya juga selalu banyak. Lima hari pertama harus pakai pembalut malam sepanjang hari. Tapi karena saya tidak pernah tanya orang lain, saya pikir itu normal.
Ternyata tidak.
Di bulan Juli, Dokter menyarankan operasi di bulan Agustus. Saya sudah tes ini itu, persiapan segala macam. Tapi seminggu sebelum operasi, dokter membatalkan.
Alasannya: obat yang saya konsumsi (Relumina) berhasil menekan fibroid, efek sampingnya masih bisa ditoleransi, dan operasi akan meninggalkan luka besar serta pemulihan panjang.
Saya diberi Relumina satu kali sehari, tanpa boleh bolos. Efek sampingnya seperti gejala menopause: panas berlebihan, keringat banyak, sakit kepala, mood jungkir balik. Saya sering mengalaminya.
Sudah hampir enam bulan saya minum obat ini. Desember nanti harus berhenti dulu, karena tidak boleh lebih dari enam bulan berturut-turut. Setelah istirahat, nanti mulai lagi. Fibroid saya besar, jadi prosesnya panjang.
Kalau saya ingat kembali semua gejala bertahun-tahun itu—sakit perut, menstruasi banyak, perut membesar, sakit pinggang, punggung, sesak napas, bahkan menekan lambung sampai asam lambung naik—ternyata semuanya karena miom yang diam-diam tumbuh seperti tanaman liar di rahim saya.
Dokter bilang kalau suatu hari saya harus operasi, ada dua kemungkinan: operasi kecil mengambil fibroid saja, atau operasi besar mengangkat rahim. Yang berarti saya tidak bisa punya anak. Bahkan tanpa operasi pun, dengan ukuran fibroid saya sekarang, risiko untuk punya anak sangat tinggi.
Setelah selesai konsultasi, saya pulang. Dan saat jalan menuju halte bus, saya tiba-tiba menangis.
Bukan sedih. Lebih ke kesal.
Kesal kenapa saya tidak tahu dari dulu. Kesal kenapa waktu di Indonesia tidak ada dokter yang mendeteksi lebih cepat. Kesal kenapa tubuh saya menyimpan rahasia sebesar melon selama bertahun-tahun.
Saya menangis sepanjang jalan sampai halte. Begitu bus datang, saya berhenti menangis, naik, duduk, dan menarik napas panjang. Saat itu saya tahu saya harus menghubungi Ibu saya dan menceritakan semuanya.
Kadang saya berpikir: kalau saja dulu lebih cepat diketahui, apakah hidup saya akan berbeda? Saya tidak tahu.
Comments
Post a Comment